Pelit dan Ngirit Memang Beda Tipis


Salam ngadubanteng masbro..
Masbro apakah pernah ketemu dengan makluk kaya begini atau masbro sendiri terindikasi sebagai makluk pelit itu sendiri, pelit itu adalah sikap dimana orang tidak merelakan barang tenaga maupun pikiran untuk orang lain secara gratis. Kenapa bisa pelit segala sesutunya pasti ada sebab akibatnya masbro ada kentut pasti ada ubi cilembuk ada nafas bau karna makan jengkol.

Bisa diibaratkan orang pelit itu kalau kentut aja dikamar terus dikunci biar aromanya bisa dinikmati sendiri..

Pelit dikarenakan tidak mau kehilangan baik barang tenaga pikiran buat orang lain...nah masbro sistim pelit itu perlu managemen yang bagus biar pelitnya ilang tapi kita jadi Ngirit.

Disaat orang lain membutuhkan jasa tenaga ataupun material cermati dulu kepentingan si peminta bantuan itu kalau dia sangat membutuhkan masbro jangan ragu buat membantu dia..soalnya ada orang itu suka memanfaatkan orang lain dan orang yang kaya gini perlu masbro hindari dia parasit dan tak tahu malu.

Jadi kita pelit buat orang yang suka manfaatin orang lain dengan maksud memberi pelajaran buat dia bahwa sikapnya itu tidak benar.
Orang pelit itu selalu sangat senang menggunakan barang jasa atau pikiran orang lain untuk kepentingan pribadi.

Salam Pelit 

ini saya copy paste cerita yang inspiratif sekali masbro 

Judul : Penderitaan Orang Pelit
yang ditulis oleh 
Penulis : Andrew Ho - Managing Director PT. KK. Indonesia, motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller 

 Dikisahkan tentang seorang lelaki berusia 60-an tahun yang menjadi buah bibir di kampungnya. Pasalnya, lelaki paruh baya tersebut terkenal sangat pelit, bahkan untuk makan sehari-hari dan kesehatannya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dia jarang sekali makan lebih dari sepotong roti setiap hari.

Suatu ketika ia marah habis-habisan kepada istrinya, lantaran istrinya itu membeli seekor ikan untuk lauk mereka makan. "Kamu ini perempuan boros. Aku saja tidak pernah membeli ikan, kok kamu berani-beraninya beli ikan," bentak lelaki itu uring-uringan.

Si istri yang sabar dan sangat hapal tabiat suaminya itu berusaha membela diri. "Bukan saya yang beli, tetapi tetangga sebelah yang memberikan ikan ini untuk kita," dalihnya.

Kalau begitu, potong-potong ikan itu menjadi 7 bagian untuk jatah lauk makan kitaselama 7 hari. Kalau mau menggoreng beri garam, tapi sedikit saja nanti garamnya cepat habis," sahut lelaki itu memberi solusi sekaligus instruksi.

Beberapa hari kemudian, lelaki itu jatuh sakit, badannya demam dan tak mampu beraktifitas seperti biasa. Si istri kasihan melihat kondisi suaminya. Ia bergegas pergi ke sebuah toko obat untuk membeli obat penurun panas.

Ketika si istri menyodorkan obat tersebut, suaminya justru menutup mulut rapat-rapat karena menilai bahwa membeli obat adalah pemborosan besar. "Jangan khawatir, obat ini adalah obat paling murah. Lagipula, di dalam kotak obat ini ada kupon yang bisa ditukar dengan hadiah," bujuk istrinya sembari memberikan obat. Tetapi suaminya itu tetap mengunci mulutnya.

Tak kurang akal, si istri langsung membisikkan sesuatu di telinga suaminya. "Ehmm, sebenarnya saya tadi bohong. Obat ini sudah kedaluarsa. Jadi toko obat itu memberikannya gratis kepada saya," bisik istrinya. Barulah setelah itu si lelaki pelit tadi bersedia meminum obat. Setelah minum obat diapun tersenyum, kemudian memuji istrinya pintar.

Pesan:
Harta kekayaan dapat berfungsi sebagai sumber kebahagiaan apabila kita mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya sekaligus menggunakannya dengan benar dan tepat. Bila kita kesulitan mencari sumber penghasilan jelas akan mengurangi kualitas kehidupan. Begitupun bila kita tak dapat mengelola keuangan dengan baik maka hal itu akan menjadi sumber petaka dalam kehidupan kita.

Hidup sederhana bukan berarti harus mengurangi kualitas kehidupan, melainkan hidup tidak berlebih-lebihan dan sedapat mungkin memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan kisah di atas adalah sebuah fenomena tentang seseorang yang tidak dapat menggunakan kekayaannya dengan baik. Sikapnya tergolong terlalu pelit, sehingga merampas kenikmatan hidup yang seharusnya ia dapatkan.

Charles Spurgeon mengatakan, "Yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki tetapi berapa banyak yang kita nikmati." Sebab kekayaan akan mempunyai arti bila kita dapat menikmatinya. Sehingga kalaupun kita ingin mengumpulkan lebih banyak harta kekayaan seharusnya tidak dengan cara bersikap pelit, karena langkah tersebut hanya akan mengurangi kualitas hidupnya. Langkah yang seharusnya ia tempuh adalah menambah sumber penghasilan.

Selain menambah sumber penghasilan, langkah selanjutnya adalah hidup sederhana. Karena di dalam kesederhanaan ada kemuliaan dan ketentraman hati. Berbeda dengan hidup pelit, dimana di dalamnya hanya ada kesusahan karena kekhawatiran berlebih hartanya akan berkurang.

Oleh sebab itu, hindarilah sikap pelit. Upayakan untuk menambah kualitas kehidupan. Manfaatkan harta kekayaan yang kita miliki dengan baik dan tepat, sehingga menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. 

0 Response to "Pelit dan Ngirit Memang Beda Tipis "

Post a Comment